Selasa, 09 September 2014

Who is Your Hero?

Ide menulis about who is your hero ini adalah ketika bulan lalu ada wartawan media cetak menelfonku untuk wawancara by phone selama ±1jam lamanya, disini aku akan mengulas apa yang ada diotakku saat itu dan terlebih lagi ide menulis ini semakin matang ketika aku tanyakan, "klo ada pertanyaan, who's your hero? Jawaban kalian apa" followers twitterku menjawab apa yang aku tanya itu dengan jawaban yang mayoritas sama. Padahal mereka dilokasi yang berbeda pastinya.

Dihadapkan pada pertanyaan tentang Hero, otak ku kembali ke masa kecil, disaat hollywood sedang berjaya dengan film-film laga, dan aku mulai mencari tau beberapa info aktor  laga dengan melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang kepo maksimal (untuk istilah anak jaman sekarang) ke ayah Dan finaaaaally i know that, nama-nama orang yang sering aku tonton filmnya, seperti Arnold Schwarzeneger, sylvester Stalone dan chuck Norris mereka adalah pahlawan dengan senjata di tangan, membebaskan orang lemah dan tertindas, dan di akhir film sebuah tanda jasa disematkan di dada sang hero, dan kita tak pernah berfikir nasib orang-orang yang mereka selamatkan, sebab kita sibuk bertepuk tangan untuk kejayaan ramboo dan terminator. Pada intinya kita hanya spektator yang senang melihat sosok-sosok hebat bertarung dan menang. Yaaa dibenak kita itu mereka adalah pahlawan.

Sementara itu lain halnya pada pelajaran sejarah saat sekolah, fenomena pahlawan identik dengan berwajah marah, berikat kepala pita merah putih, bersenjatakan bambu runcing, stereotip yang kerap menghiasi buku-buku pelajaran sejarah, kita diceritakan tentang betapa heroiknya Jendral sudirman, Bung Tomo, Tjoet njak dien dan juga pahlawan revolusi lainnya. Namun kemudian kita dihadapkan lagi pada sebuah dilema saat mengetahui bahwa ternyata kisah pahlawan revolusi itu rekayasa. What do you think about that? Kita yang enggan dibohongipun jadi bingung, bila satu saja terbukti bohong, dari mana kita tau bahwa yang lainnya tidak "dibelokkan" juga??? Maka pahlawan dalam sejarah kemerdekaan Indonesiapun menjadi rancu, sama rancu nya dengan "kemerdekaan" itu sendiri. Apakah aku selalu skeptis? Tentunya tidak. Aku Sama seperti orang lain, yang saat itu juga sedang melewati masa masa pencarian sosok pahlawan, seorang role model untuk dicontoh.

For my life.

"My heroes are my parents, i cant seeing i'm putting anyone else as the number one on my list. They raised me, protect me, and teach me about life, yaaa about everything!"  

Dia lembut, tak banyak bicara, tapi selalu tenang, selalu diam saatku sedang heboh bercerita tentang berbagai hal yang aku alami, dia yang tertawa bahagia ketikaku melontarkan lelucon-lelucon konyol, dia yang tak pernah menegorku dengan kasar, tapi hanya dengan  tatapan matanya lah aku merasa bahwa ia berbicara menasehatiku and she's my mother. Semua nilai prinsip hidup yang membawa dan menjaga aku dimanapun aku berada sekarang. Mama mengajarkan ku bahwa hidup itu ga sendiri, maka dari itu, hidup harus berbagi, dan aku menyadari jiwa sosialku tumbuh karenanya. ayah juga hero, and i called him "Jendral kantjil", beliau seolah-olah ga pernah kasih perhatian langsung ke anak-anaknya, tapi aku tau dan aku bisa merasakan betapa sayangnya ayah ke mama dan anak-anaknya, yaaa... ayah paling gengsi untuk menitikan air mata dan terlihat khawatir didepanku, karena dia gamau di bilang lemah. Dibalik itu semua ayah sering nangis mengkhawatirkanku ketika aku harus nyetir pulang malam sendirian, ayah nangis ketika tau ada orang yang menyakitiku, ayah nangis ketika nona kecilnya berhenti senyum dan masang rawut muka penuh masalah. ketekunan, dan ketegarannya yang membuat aku belajar banyak hal. Klo ditanya seberapa besar pengaruh mereka bagi kehidupanku? Dengan lantang aku akan menjawab, sangat besar! Mulai dari cara berfikir dan cara bersikapku, mengajarkan emotional intelligence yang sangat penting dalam membentuk karakter. Selalu mengingatkanku jangan pernah menunda-nunda pekerjaan, when you can do it now, do it now dan jangan pernah bergantung pada orang lain, if you can do it by self, yaaa by self. Dan yang ada dalam diriku sekarang, semuanya pengaruh dari kedua hero-ku. They walks the talks and practice what they preaches.

For my hobby

Klo kalian tanya siapa hero-ku dalam menulis, aku akan jawab Joanne Kathleen Rowling, penulis serial fenomenal itu udah berhasil menjadi salah satu inspirasiku dalam menulis, imajinasinya itu edan luar biasa dan cara dia menuangkan imajinasinya yang gila ke dalam tulisan itu membuat aku terkagum-kagum sekaligus terpacu untuk membuat tulisan yang sama hebatnya, dari dia lah aku suka belajar bagaimana menulis deskripsi yang detail dan membuat pembaca ikut merasakan dan masuk kedalam tulisanku.

For my Passion

Dunia jurnalistik itu begitu luas dan aku sama sekali ga menyesal terjun di dalam dunia ini, dunia ini mengajarkan ku banyak hal tentang ribuan orang yang punya pemikiran yang berbeda dan disinilah posisiku untuk bisa senetral mungkin terhadap apapun dan siapapun. Kenal orang diberbagai kalangan membuatku belajar banyak posisi posisi baru yang belum pernah aku temui sebelumnya. Sosok inspiratifku diruang lingkup ini adalah Najwa Sihab, Titis Widjatmoko, Kania Sutisna Winata, Senandung nacita, mereka tak hanya pintar, namun juga sangat real, mereka bisa membuat orang yang diajak bicara itu merasa nyaman, jadi saat mencari informasipun tidak emosional. Dan membuatku tidak malu bertanya, karena selama ini banyak yang gengsi dan takut untuk dibilang bodoh. Mereka membuktikan bila di tv memang real dan ga selalu glamours but they're still grounded. Menurutku mereka punya value untuk aku anggap sebagai hero-ku dibidang ini.

Seorang pahlawan ga harus selalu sosok yang mampu melakukan segalanya dan menjadi yang terbaik disegala bidang. Kita jangan hanya meneropong kelebihannya aja, cari tau sejarah dibalik nama itu. Sebenernya Pahlawan sesuai porsinya aja, selama mereka dapat memberi pelajaran baru buatku ya mereka adalah pahlawan. Aku ga punya figure khusus klo harus ditanya dan jawab satu sosok aja.

And you! Taught me to be original, he taught me to forget the pain, mock the pain and reduce it.

Pada akhirnya aku berpikir bahwa kepahlawanan berbicara soal "tindakan tanpa pamrih just to serve at our cost untuk orang lain, tidak perlu ditengah perang, just do the right thing for others when the opportunity reveal it self. Bahwa kamu, aku dan mereka, kita semua bisa saling menginspirasi kok.