Sabtu, 28 Juni 2014

Hijab? Harusnya sih mencerminkan Perilaku

  

      Jika kita berhijab, sifat dan perilaku akan mengikuti? Itu pernyataan darimana? Aku ga setuju dengan orang yang bilang seperti itu, kenapa? Yaa karena, banyak wanita yang berhijab tapi sifat dan kelakuan sangat jauh dari kata hijab. Hijab= berjilbab = menutupi / menjaga. Gaya berhijab saat ini pun tidak monoton hanya membentuk potongan segitiga, warna-warna standar dan aksesoris minim. Tapi sekarang, revolusi hijab sudah sangat berkembang pesat, mulai dari bentuk, pelengkap hijab, aksesoris pendukungnya, dan tentu saja dengan itu semua, membuat hijabers makin clic and chic dalam penampilan. Tidak lagi bosan dengan penampilan itu – itu saja.

      Nah pertanyaannya saat ini, apakah para hijabers tersebut memang benar-benar memahami makna dari penutup aurat, atau hanya sekedar mengikuti tren baru yang diciptkan oleh desainer muda “dian pelangi”sang pelopor hijabers community bahwa sekarang berhijab itu tidaklah kolot dan membosankan, tetapi fashionable dan chick.
     Melirik sebentar kepada arti kata hijab ~ Al-Hijab berasal dari kata hajaban yang artinya menutupi, dengan kata lain al-Hijab adalah benda yang menutupi sesuatu, menurut al-Jarjani dalam kitabnya at-Ta’rifat mendefinisikan al-Hijab adalah setiap sesuatu yang terhalang dari pencarian kita, dalam arti bahasa berarti man’u yaitu mencegah, contohnya: Mencegah diri kita dari penglihatan orang lain.

     Jadi jelas disini dikatakan berhijab itu gunanya untuk menutupi aurat para wanita, agar dia terlindungi dari marabahaya. Tentunya juga si hijaber tersebut menutupi aurat dengan mamakai pakaian yang mentupi tubuh sesuai dengan syariat brhijab yang baik.

    Kini sering ditemukan kepala ditutupi kerudung, tapi kelakuan jauh lebih rendah dari wanita dengan rambut terurai. Alangkah baiknya jika kepala udah ditutupi, akidah dan ahlakpun dijaga. Di era yang semakin maju, kini hijab pun masuk dalam kategori fashion, (banyak) wanita berlomba-lomba menutupi kepalanya karena mengikuti fashion yang ada. Aku salut sama mereka yang tetap konsisten dengan pilihannya untuk menggunakan kerudung sebagai penutup mahkota juga sebagai landasan pertimbangan dia dalam melakukan hal apapun. Klo aku pribadi, aku akan mengenakan kerudung, ketika aku udah menutupi ATTITUDE dengan kesopanan dan melakukan segala halnya sesuai pertimbangan-pertimbangan yang matang, dan ketika aku udah menutupi HATI aku, menutupi hati yang dimaksud adalah aku ingin mengkrudungi hati aku dari sifat iri, dengki, riya dan yang lainnya, karena menurut aku percuma kepala ditutupi tapi klo hati masih suka kesel ketika liat orang lain bahagia, aku mau menjaga mulut, karena ketika aku sudah siap menutupi kepalaku dengan berhijab, berarti aku udah harus menjaga perkataanku, percuma dong yah klo kepala ditutupi tapi klo mulut masih suka ngomongin orang, masih suka fitnah, masih suka bergosip, masih suka nyinyir, sayaaang... sama kerudung yang dipake. Jilbab/ Kerudung itu bukan mainan, klo merasa diri belom istiqomah, yaa jangan coba-coba ikutan berkerudung hanya demi ikutan trend yang ada sekarang.

   Disini aku bukan mengunderestimate wanita berhijab, jelasss tidak. toh banyak juga mereka yang berhijab karena keinginan dari hati dan perilaku sudah selayaknya wanita berhijab, itu jelas lebih baikkk. pada dasarnya wanita diciptakan dengan segala kelebihannya dan membuat ia terlihat cantik, tanpa hijabpun jika hatinya bersih, aura kecantikan pasti muncul dari dalam dirinya, tapi jika ia berhijab dan hatinya masih saja kotor, mau sebagus apapun gaya dia memakai hijab tetap saja aura yang terpancar tidak enak dilihat.