Saat masih umur 3tahun, kita udah suka menghayal seolah-olah lagi belajar disekolah, pake baju sekolah yang kebesaran, bawa-bawa tas kesana kemari, dan bertingkah layaknya seorang siswa lagi belajar dengan guru dikelas, seraya ngomong dan jawab sendiri. Konyol sih... Tapi saat itulah orangtua menilai bahwa kita mempunyai semangat belajar yang tinggi. Masuk umur 4tahun, mama ngedaftarin aku di TK dengan grade "Nol kecil", dulu masih ada sistem cawu atau caturwulan dan akhirnya umur 5tahun lanjut ke grade "Nol Besar". Jamannya kita masuk SD, kita cuma bisa nerima sekolah mana pun itu hasil pilihan orangtua, ketika SMP pun begitu, kita hanya dikasih sedikit "suara" untuk memilih mana sekolah yang akan kita tuju, dan seterusnya. Selama ini kita hanya meng"iya"kan tanpa perlawanan. Perlawanan yang aku maksud itu, menolak sekolah pilihan orangtua. Tapi keadaan seperti itu tak lagi ditemui ketika kita ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dari SMA, kita bebas memilih kampus, bebas memilih jurusan apa yang sesuai dengan keinginan kita, bebas menentukan pilihan deh yaa.... Proses kuliah yang membutuhkan waktu yang cukup lama membuat kita semakin mengerti akan passion kita kedepan, kita mendapatkan materi-materi guna mempermatang pengetahuan yang ada, dan berharap lulus kuliah kelak kerja sesuai keinginan dan kemampuan kita. Yaaa... Itu hanya wacana kita untuk hidup kedepannya. Karena jika aku udah mengetahui passionnya, hidup akan jadi terarah, kita jadi bisa fokus ke bidang yang kita suka dari awal dan yakin, bahwa mimpi itu bisa cepat kita raih Dan balik lagi pada intinya, kadangan tujuan, harapan, wacana, keinginan tidak sesuai dengan kenyataan. Aku kuliah di fakultas komunikasi jurusan jurnalistik, kenapa aku memilih itu? Karena awalnya, aku ingin jadi reporter news , atau menghayal untuk kerja di sebuah Majalah remaja yang berdiri sendiri karena kegigihan 4bersaudara. Mendapatkan banyak pelajaran berharga saat kuliah, pelajaran-pelajaran dimana aku bisa meyakinkan diri untuk tetep pada passion aku sebagai seorang jurnalis. Lulus kuliah kerja sebagai seorang kuli tinta disebuah media , jiwa jurnalis udah ada dalam diri aku sejak lama, biasanya selalu pengen tau tentang "how" and "why" dari suatu hal, be curious sih... karena aku selalu penasaran dan itu bikin aku tertarik buat mencari tahu tentang banyak hal, dengan begitu pikiran aku jadi selalu aktif, pengetahuan juga tambah luas dan bisa memunculkan perspektif baru dalam melihat sesuatu. Sampai akhirnya aku mendapat pertentangan dari Ayah untuk segera mengakhirinya, pemikiran ayah emang realistis sih, dan maksud dari larangannya emang baik, ayah ga mau aku cape liputan sana sini, suka pulang malam, bahkan kadang sampai larut, kenapa ayah kaya gitu? Karena aku anak perempuan tertua dirumah dan jadi anak tertua juga, yaaa sepeninggal abang, aku emang jadi anak paling tua nya ayah, ayah mau aku kerja diruang lingkup yang jelas, office hour, dan duduk manis dibalik meja. Klo ditanya baik atau ngganya, jelas baik banget keinginan ayah, tapi ga baik buat aku (sekarang) ini, mengecilkan mimpi demi Ayah. Demi orang hebat yang selama ini aku banggain karena perjalanan karirnya sampe sekarang ini. Ayah keras dalam mendidik anak, tapi aku yakin, ayah punya tujuan yang jelas untuk itu semua. Setengah hati aku beranikan diri untuk apply ke 2 Bank yang termasuk dalam gol.BUMN . Hanya dengan modal nekat aku coba tenang saat walk in interview and I show the best I ever had for interviewer, dan lanjut psikotes serta tes kesehatan yang ternyata aku bisa dan lulus dalam tahap-tahap itu. Hingga menuju keputusan terakhir, aku harus interview user di sebuah pusat bank dibilangan kota, wawancara dengan kanwil pusat sih sempet bikin dagdigdugserr. Yaaa... really I'm so nervous. Karena menurut capeg (calon pegawai) yang sudah ngejalanin interview user, Pak Kanwil itu agak horor karena ketus dalam omongannya dan susah senyum. Ketika tiba saatnya namaku dipanggil, aku coba se rileks mungkin, dan dalam hati aku monolog sama tuhan "tolong jaga perkataanku, dan mudahkan aku menaklukkan orang itu, semua demi orangtuaku" aku masuk dan langsung ijin duduk, seperti biasa suasana agak kaku dan berakhir dengan obrolan serius tentang dunia fotografi dan konser, karena pak kanwil tertarik dengan pembahasan itu dan untungnya aku bisa mengimbanginya. Masuk tahap pemberkasan, rasanya 1/4 bagian dari diri aku ilang.. Karena ijazah S1 aku resmi ditahan selama 2tahun oleh pihak bank, padahal saat itu aku masih setengah hati untuk bergelut diprofesi itu. Kontrak 2tahun itu bukan "waktu" yang singkat buat aku jalani.
Aku pernah ngerasa down, sedih, kecewa saat cobaan datang, pikirin tentang berbagai hal yang patut kita syukuri dalam hidup. Always look at your problems from the bright side. Dari pada fokus mikirin apa yang ga bisa kita dapetin, mending syukuri what we already have. Dengan begini kita jadi lebih bisa menghargai hidup dan lebih deket dengan tuhan. Sekarang aku jalanin apa yang udah aku perjuangkan, berat memang, tapi insyaAllah aku akan merasakan nikmatnya suatu hari nanti, karena tiap kejadian pasti ada hikmahnya.
Jadi buat kalian yang masih dibebaskan dalam hal memilih pekerjaan, mulai dari sekarang kejar passion kalian, kejar apapun yang memang pantas kalian gapai.