Selasa, 12 Februari 2013

Valentine Day? Bukan Keharusan untuk Dirayakan

  .  Sekarang udah masuk tanggal 12 Februari, that's why ada rasa keinginan aku untuk ngebahas V'Day, it's mean hari Valentine in February :) dan so faaaar, Valentine sangat identik dengan Bunga, pink, dan Cokelat.
    Setiap bulan Februari, cokelat, permen loli dan bunga mawar jadi makin laris. Yang mau aku tanya, adakah keterkaitan antara cokelat, permen loli, penjual bunga dan kasih sayang? Tapi terlepas dari itu semua, apakah keterkaitan itu akan menguntungkan atau justru merugikan kamu?

     Aku pun tertarik untuk ngobrol sama ayah mama dan aku menyimak ungkapan cinta yang mereka utarakan, kepada pasangannya tidak harus dengan sebuah cokelat atau bunga. Bisa dibilang media massa waktu itu masih cenderung sedikit, channel televisi aja hanya ada satu. Tetapi, ketika televisi dan radio swasta, serta media massa cetak untuk anak muda mulai hadir kebentuk dan termasuk bagian gaya hidup di tahun 1990-an hingga sekarang. Hal tersebut menjadi semacam tolak ukur terhadap bagaimana seorang remaja harus mengisi hari-harinya. Berangkat dari media ini, situasi tentang kebiasaan orang dibelahan dunia lain yang memakai cokelat dan bunga sebagai ekspresi kasih sayang, sebetulnya hanya mengisi wawasan kita tentang mengungkapkan apa itu "cinta".
    
     Menjadikan sebuah identitas yang khas pada cokelat, bunga, dan kasih sayang secara universal pada tanggal 14 februari, sesungguhnya membuat “kasih sayang” jadi terkotakkan dalam moment khusus selain tanggal itu, membuat orang merasa wajar untuk tidak saling mengasihi dan menyayangi dihari lain. Layaknya perayaan tradisi saling memaafkan dan meminta maaf dihari lebaran, yang malah membuat orang berfikir dan bertindak bahwa memberi dan meminta maaf hanya saat moment lebaran saja. Sekarang sudah jarang aku melihat orang yang menerapkan nilai saling memberi cinta dan kasih sayang terhadap sesama, karena (kebanyakan) orang berfikir akan ada satu hari dalam setahun dimana kita bisa saling mengekspresikan rasa cinta dan kasih sayang, jadi pemanfaatan ini meresap kedalam waktu 24jam saja, dari 8760jam yang kita miliki selama setahun, atau mungkin sebaliknya. Munculnya hari Valentine bisa jadi adalah dari menurunnya ekspresi kasih sayang yang diungkapkan oleh manusia, sampai-sampai dibuat satu hari khusus untuk merayakannya.
Back to the topic about Cokelat dan bunga, menurutku sama sekali bukan bermaksud untuk menyatakan ekspresi cinta, kalau ada orang yang beranggapan seperti itu, menurutku he/she was weirdoos. Hihi

   Apa jadinya bila kita ga punya ekspresi cinta sendiri, dan atas nama takut ketinggalan zaman, cokelat dan bunga kini menjadi ciri konsumtif anak-anak muda di Hari Valentine. Nilai konsumtif tersebut yang bisa merugikan. Namun lepas dari bunga ataupun cokelat, kita harusnya punya pikiran sendiri tentang cinta atau rasa sayang yang kita inginkan. Sebenernya kita bisa mengubah pandangan kita terhadap cinta dengan tidak melulu mengidentikkan cinta dengan bunga , cokelat, candle light dinner atau malah making love dengan pacar, kedalaman perasaan bukan diukur dengan material thing that you just can get by spending money. Cintailah orang – orang disekelilingmu, misalnya cium kening kedua orangtuamu, di iringi dengan kartu ucapan rasa kasih sayang dipagi hari. Buatlah ekspresi cinta yang universal dengan tidak membatasi diri untuk mengungkapkannya. Begitu banyak benda yang mungkin kamu anggap remeh di sekelilingmu yang bisa kamu gali manfaatnya sebagai simbol rasa cintamu. Jika pemikiran kamu selalu terpaku pada benda-benda yang sering kamu lihat ditelevisi, dimajalah, di mall-mall, dll. Ada baiknya kamu membayangkan sedang berada disuatu pulau in the middle of nowhere, dan kamu diharuskan mewakili rasa cintamu dengan benda yang ada disitu, jangan lupa untuk memberi alasan dan penjelasan yang masuk akal mengapa kamu pilih benda tersebut. Let's try it ! tapi ga harus saat valentine.
    14 februari, bukan moment yang mengharuskan kalian untuk merayakan valentine dengan pacar, istri atau dengan orang terkasih, tapi lebih baik digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Karena kenyataannya valentine's day itu ga ada dalam budaya kita (rakyat Indonesia) . Jadi untuk kalian yang belom punya pasangan, jangan memusingkan moment Valentine, klo memang kalian mau berbagi kasih sayang, dihari lain pun bisa. Selama ini kita hanya dibodohi pengaruh budaya luar. Behave lah ya!! :)

Minggu, 10 Februari 2013

Aksi Kecil, Bermakna Besar

         Banyak orang nanya "kenapa sih lo dari dulu suka banget donorin darah? Hobby?" Haduhh.. Masa hobby donorin darah? Awal mula kenapa aku suka dondar (donor darah) yaaa karena aku inget cerita ayah, tentang pengalaman susahnya ia mendapatkan 4kantong darah yang dibutuhin untuk kakek aku, padahal ayah adalah pendonor (rutin), tapi kesulitan-kesulitan tetap ia temui ketika ia benar-benar sangat membutuhkan. Hingga akhirnya kakek aku meninggal karena lamanya darah yang ayah dapatkan, ketika ayah sampai dirumah sakit, ternyata kakek aku udah menghembuskan nafas terakhirnya, dengan reflek darah yang ayah bawa langsung dilempar jauh-jauh, karena ayah nyesel kenapa harus lama dapet pertolongan itu. bukan salah ayah sih, dan bukan juga sepenuhnya salah pihak PMI yang memang jelas mereka juga agak menyulitkan dalam proses sampainya darah itu ketangan ayah, tapi karena stok darah yang ayah cari saat itu sangat terbatas, hingga ayah hanya diperbolehkan membawa 2kantong aja. dari situ aku mikir, betapa berharganya sekantong darah untuk (mereka) yang membutuhkan, dan betapa petingnya tiap orang mempunyai jiwa sosial untuk membantu antar sesama. Aku memantapkan diri mendonorkan darahku untuk pertama kalinya saat masih duduk dibangku Sekolah Menengah Atas, hingga akhirnya aku merasa itu hanya hal kecil yang bisa aku lakukan untuk membantu, dan semua itu menjadi sesuatu hal yang biasa dan rutin aku lakuin setiap ada event donor darah. Itu alasan kenapa aku bilang 1kantong darah yang kita berikan setiap dondar hanya "hal kecil", tapi itu bisa menyelamatkan hidup seseorang, memang cuma sekantong sih, tapi yaaaa... Paling ngga, kita udah ikut andil dan berharap darah itu akan bermanfaat untuk(nya). Karena aku gamau apa yang dialamin ayah dalam usaha susahnya mencari darah untuk menolong hidup kakek aku, akan dialami pula pada orang lain. Walaupun aku sadar, hidup mati seseorang hanya Tuhan yang tau, tapi kita sebagai manusia juga wajib berusaha. Kalaupun akhirnya tidak sesuai dengan keinginan kita, berarti Tuhan tau apa yang terbaik untuk kita. Dan kematian kakek, adalah jalan terbaik yang Tuhan kasih.

        Jadi, jangan tanya kenapa aku seperti ini, jelas alasanku hanya 1, aku mau apapun yang aku punya, apapun yang bisa aku "lakukan" harus bermanfaat buat orang lain. Bahkan dulu pernah terbesit dipikiranku ingin jadi duta PMI, mungkin orang yang mendengarnya akan mengernyitkan dahi, karena jaman sekarang masih aja pemikiran aku kaya gitu, mungkin mereka akan menganggapku "katrok" kali yah. But no problem, karena menurutku, sadar atau tidak, Indonesia ini sangat sangat sangat kekurangan pendonor darah, karena ga adanya kesadaran diri dari masing-masing, bahkan (mungkin) mereka berfikir itu hanya buang-buang waktu dan ga penting untuk jadi salah satu pendonor. Memang ga wajib sih, tapi klo kita bisa, why not? Sempet agak kesel denger percakapan seseorang:
  
A: "Lo yakin mau donorin darah? 
Untungnya apa coba?"
B: "iya, yakin lah! Hmm. Ga ada 
untungnya. Gue cuma mau ikutan 
aja."
A: "nah kaaan, yaudah gausah donor 
aja. Kan sakit tau."
B: "ah lo bikin gue bimbang. Lah, lo 
sendiri kenapa ga mau donorin 
darah lo?"

A: "Ga ahh males, lagian gue juga 
takut sama jarum suntik."
B: "hahaha"

         Menurut aku, mereka itu konyol, donor darah emang ga ada untungnya secara materil, tapi secara batin kita puas udah bisa ngebantu orang lain, untuk alasan takut karena jarum suntik, coba berfikir lagi deh,
        » sama orang tua aja kadang (suka) ngelawan, masa sama jarum suntik takut.
        » Sholat 5waktu aja kadang suka ditinggal (padahal jelas dosanya seperti apa), masa sama jarum 
           suntik takut? 
     
        Sebenernya aku cuma mau meningkatkan kesadaran orang-orang bahwa donor darah adalah hal yang baik untuk kesehatan, sekaligus membantu orang yang membutuhkannya. Dan I like the concept that everyone have the same blood, running through their veins - entah mereka Kristen, Islam, Hindu, Buddha, Katolik, laki-laki, perempuan atau apapun itu, pokoknya judulnya yaa kita sama-sama manusia, dan kita semua sama, ngga ada perbedaan. A lot of social work banyak yang kaitannya dengan agama, ras, status, dan sebagainya, but when it comes to PMI - it's kind of just humans , and you knowit's just health, human survival, and just benefit of everyone. 

"Sekantong darah kalian, sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan"

Jumat, 01 Februari 2013

Arti Cinta Ternyata Ada di Hati dan Kepala Kita

   Orang mengira kalau cinta itu semata persoalan hati. Ternyata cinta yang sehat itu selain memerlukan hati, juga memerlukan "kepala" loh. Nah, kita harus tau nih sekarang, bagaimana latar belakang perayaan hari kasih sayang atau sering orang bilang "Valentine Day", dan apa sih prinsip dari cinta itu?

Awalnya ketika aku iseng membaca sebuah buku dirumah teman kantor ayah dan aku lupa dari mana buku itu berasal, berjudul apa dan cetakan keberapa, aku tak ingat, yang aku ingat hanya beberapa bagian (tulisan) di dalam buku itu. Aku akan mencoba to story telling dengan gaya bahasa/ciri khas ku. Lagipula sebentar lagi tanggal 14Februari, (biasanya) orang bilang itu adalah hari Valentine.

Bermula ketika Raja Claudius II (e68-270 M) melarang prajurit-prajuritnya menikah. Menurut Raja tersebut, kalau para prajurit itu menjomblo, maka mereka akan lebih agresif berperang. Kebijakan ini lalu ditentang Santo Valentine dan Santo Marius, diam-diam mereka berdua tetep bersedia meresmikan pernikahan para prajurit. Ini tentu karena mereka membela kasih sayang. Bagi mereka pernikahan itu seharusnya adalah perwujudan nyata dari kasih sayang antara dua manusia yang ingin berkomitmen untuk saling mengasihi selama hidup mereka. Namun sayang, tindakan mereka tercium sang raja. Kedua Santo itu dipenjarakan lalu dihukum mati. Ketika dipenjara, Santo Valentine berkenalan dengan seorang gadis anak sipir penjara, yang kemudian gadis ini dengan setia menjenguk Valentine hingga menjelang hukuman matinya. Mungkin karena Santo ini mengajarkan bagaimana kasih sayang atau cinta itu penting bagi kehidupan manusia. Saat itu Valentine masih sempet menulis pesan "From Your Valentine" kepada gadis itu. Kata ini adalah ekspresi cinta kepada sesama manusia. Setelah kematian Santo Valentine dan Santo Marius, orang-orang selalu mengenangnya dengan merayakan cinta kasih yang dinamai "Valentine". Dua ratus tahun kemudian (496M) setelah kematian Santo Valentine dan Marius, Paus Galasius meresmikan 14 Februari 496 sebagai hari Valentine. Walau begitu, ternyata perayaan Valentine modern sekarang ini justru tidak dikenal dalam adat perayaannya orang kristen, artinya hari Valentine bukanlah hari suci bagi umat kristiani. Begitulah asal muasal Valentine Day, meskipun sejarah ini diambil dari kaum kristiani, tapi tetap saja kasih sayang atau cinta itu sebenernya bisa dimiliki siapa aja, agama apa aja. Tak hanya Santo Valentine dan Marius, ada tokoh lain yang juga berbicara mengenai masalah cinta dan ga kalah populernya, terutama karena mengaitkan cinta tidak hanya dengan perasaan, tapi juga pikiran.

       Klo aku sebut nama Gabriel Marcel (1872-1970), ada yang tau ga? Siapa dia? Mungkin sebagian dari kalian udah ada yang kenal atau bahkan mengetahui biografinya. Dia itu filsuf asal Inggris yang juga berbicara masalah "cinta". Sebenarnya bukan cinta aja sih yang dia bahas, dia juga sejarawan, ahli matematik, dan ahli logika juga. He has ɑ smart brain, indeed :) that's why, aku suka baca sedikit kisah dibalik nama itu. Tapi disini aku ga bahas kepintarannya, yang aku bahas adalah Perihal "cinta" dari orang pintar ini yang harus kita simak yaitu:
    
    "kehidupan yang baik adalah kehidupan yang di ilhami oleh cinta dan tentu saja melalui bimbingan atas pengetahuan."

    Mungkin itu juga sebabnya banyak pepatah mengatakan "Hidup tanpa cinta itu ngga bermakna" dan "cinta tanpa pengetahuan itu buta" . Pria peraih Nobel Prize in Literature ini menjelaskan bahwa "Pengetahuan dan Cinta adalah dua hal yang dapat diperluas sampai tak terhingga, it's mean, bahwa bagaimanapun baiknya kehidupan, dengan mengaitkan antara cinta dan pengetahuan, akan masih ada kehidupan yang lebih baik dari yang pernah kita bayangkan". Pemikiran dia tentang cinta ini juga sangat terkenal dan berguna sekali dalam menganalisa dunia percintaan. :))

   Jadi intinya, cinta itu bukan hanya bicara perasaan, tapi juga melibatkan pikiran atau pengetahuan, selain sisi emosi, kita juga harus melibatkan rasio kita dalam bercinta. Selain itu cinta bukan hanya milik dua orang, tapi juga milik masyarakat dan orang banyak, cinta bisa membuahkan keadilan buat masyarakat. Jangan seperti raja Claudius tadi, karena "pikirannya" maka hatinya tak memberi tempat tentang "cinta". Payah yaah... Dan balik lagi ketulisan aku beberapa bulan lalu, bahwa kekuatan pikiran memang bener-bener dahsyat. Udah saatnya kita hati-hati dalam berfikir.