Kamis, 05 Februari 2015

Are You True Friend(s) ?

Teman? Sahabat? Untuk hal ini dan dalam situasi iniaku tidak tau “siapa mereka sebenarnya?” Cuma hati kecil kita masing-masing dan Tuhan lah yang tau. Kadang aku kangen sama merekabukan kadang tapi sering dan sangaaaaaat kangen dimana kita bisa jalan barengketawa barengsaling bully membullysaling sharing, saling bantu, saling jail dan saling support. Semua keadaan itu tak lagi kutemui (sekarang), mereka punya dunia nya sendirikesibukan sendiri dan bahagia sendiri. Aku merasa di tinggalkan? Tentu tidak, mungkin ini adalah awal dimana aku bisa menentukan mana teman, mana sahabatatau malah musuh abadi.  Aku sayang merekaaku rindu mereka. Tiga orang bersatu dalam wadahdengan umur yang jauh berbeda bedapemikiran yang bedacara bicara yang bedacara bergaul yang bedadan sifat jauh berbeda pula. Yaaaa.... pada kenyataannya kita memang berbedatapi hobby lah yang menyatukan perbedaan itu semua. Awal dimana aku mulai kenal merekaaku merasa “oke mai, lo punya Abang dan kakak baru sekarangsilahkan lo belajar banyak hal positif dari mereka” aku memang kenal merekatapi aku tak mengenal “siapa” mereka sebenarnyaPengendalian emosi kita memang bedakadang semua bisasamaketika kita tiba-tiba satu pemikiran tentang apa yang adaKadang kita beda dan saling keluarin pendapat masing-masingMasuk dimana waktunya salah satu dari kita ada yang sedikit bete karena suatu halaku berusaha menyatukan lagidengan segala cara yang aku bisa agar kita masih bisa jalan bertigamasih bisa saling berbagiWalau ada aja hambatannyatapi aku gabisa liat salah satu dari kita ada yang kesel-kesel’an.

Teman : ada batasan
Sahabatudah saling terbuka tanpa rasa takut saling menyakiti.

Berjalannya waktu, rasa saling menghargai itu pudarpudar layaknya kita tak pernah saling kenal. Bahkan aku tak mengenal mereka yang sekarangmereka berubah drastis,tanpa ngasih tau penyebab berubahnya karena apaJauh sebelum itu mereka baiktapi baiknya beralasan,. Banyak omongan-omongan negatif tentangnyaaku Cuma bisa senyum dan bela “mereka orang baik kok, kalian aja yang gatau” padahal dalam hati aku nangisnangis karena aku punya temen dan ternyata banyak yang ga suka dengannya.

Jendral kantjil pernah bilang: “ketika kamu membeberkan kejelekan temanmu atau bahkan kamu membeberkan sesuatu tentang temanmu yang kamu tidak tau kejadian sebenarnyadan seolah-olah kamu mengetahuinyamaka itu sejelek-jeleknya dirimu sendiri

Aku memegang kalimat itukalimat yang udah ayah ingatkan ke aku beberapa tahun laludan aku sangaaaaat ingin untuk selalu mengingatnya sampai kapanpun itu. Laporan laporan jelek tentang ku pun berdatangan dari berbagai orangdan aku sangat menghargai itu. Ketika ku tanya “Kalian tau darimana?” mayoritas menjawab “tau dari temenmu sendiri mai” . setiap orang yang abis di komporin diaselalu ngadu ke akujadi lucu sebenernyamau ketawasedih atau malah empati sama dia. Kasian . karena tanpa aku mencari tau, orang-orang itu yang mencariku dan ngasih tau semua yang udah diceritakan “temenku” . bersyukur ternyata dibalik itu semuamasih banyak orang yang dengan sendirinya care denganku tanpa aku harus memintanyaSaran-saran berseliweran tentangnya. “mereka bukan temen yang baik maiapa kamu masih mau anggep mereka temen? , sindir menyindir di social media bukan jalan yang bener klo mau negur temen” dengan lancangnya aku bilang “aku masih hargai merekaaku udah terlanjur sayang sama merekamau dalam keadaan apapun,mau mereka sejahat apapunmereka tetep temenku

kehilangan teman? I don’t care. I have a long way to go in life and i’ll meet a lot of new people anyway, because if YOU are true friend, don’t leave”

Selasa, 09 September 2014

Who is Your Hero?

Ide menulis about who is your hero ini adalah ketika bulan lalu ada wartawan media cetak menelfonku untuk wawancara by phone selama ±1jam lamanya, disini aku akan mengulas apa yang ada diotakku saat itu dan terlebih lagi ide menulis ini semakin matang ketika aku tanyakan, "klo ada pertanyaan, who's your hero? Jawaban kalian apa" followers twitterku menjawab apa yang aku tanya itu dengan jawaban yang mayoritas sama. Padahal mereka dilokasi yang berbeda pastinya.

Dihadapkan pada pertanyaan tentang Hero, otak ku kembali ke masa kecil, disaat hollywood sedang berjaya dengan film-film laga, dan aku mulai mencari tau beberapa info aktor  laga dengan melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang kepo maksimal (untuk istilah anak jaman sekarang) ke ayah Dan finaaaaally i know that, nama-nama orang yang sering aku tonton filmnya, seperti Arnold Schwarzeneger, sylvester Stalone dan chuck Norris mereka adalah pahlawan dengan senjata di tangan, membebaskan orang lemah dan tertindas, dan di akhir film sebuah tanda jasa disematkan di dada sang hero, dan kita tak pernah berfikir nasib orang-orang yang mereka selamatkan, sebab kita sibuk bertepuk tangan untuk kejayaan ramboo dan terminator. Pada intinya kita hanya spektator yang senang melihat sosok-sosok hebat bertarung dan menang. Yaaa dibenak kita itu mereka adalah pahlawan.

Sementara itu lain halnya pada pelajaran sejarah saat sekolah, fenomena pahlawan identik dengan berwajah marah, berikat kepala pita merah putih, bersenjatakan bambu runcing, stereotip yang kerap menghiasi buku-buku pelajaran sejarah, kita diceritakan tentang betapa heroiknya Jendral sudirman, Bung Tomo, Tjoet njak dien dan juga pahlawan revolusi lainnya. Namun kemudian kita dihadapkan lagi pada sebuah dilema saat mengetahui bahwa ternyata kisah pahlawan revolusi itu rekayasa. What do you think about that? Kita yang enggan dibohongipun jadi bingung, bila satu saja terbukti bohong, dari mana kita tau bahwa yang lainnya tidak "dibelokkan" juga??? Maka pahlawan dalam sejarah kemerdekaan Indonesiapun menjadi rancu, sama rancu nya dengan "kemerdekaan" itu sendiri. Apakah aku selalu skeptis? Tentunya tidak. Aku Sama seperti orang lain, yang saat itu juga sedang melewati masa masa pencarian sosok pahlawan, seorang role model untuk dicontoh.

For my life.

"My heroes are my parents, i cant seeing i'm putting anyone else as the number one on my list. They raised me, protect me, and teach me about life, yaaa about everything!"  

Dia lembut, tak banyak bicara, tapi selalu tenang, selalu diam saatku sedang heboh bercerita tentang berbagai hal yang aku alami, dia yang tertawa bahagia ketikaku melontarkan lelucon-lelucon konyol, dia yang tak pernah menegorku dengan kasar, tapi hanya dengan  tatapan matanya lah aku merasa bahwa ia berbicara menasehatiku and she's my mother. Semua nilai prinsip hidup yang membawa dan menjaga aku dimanapun aku berada sekarang. Mama mengajarkan ku bahwa hidup itu ga sendiri, maka dari itu, hidup harus berbagi, dan aku menyadari jiwa sosialku tumbuh karenanya. ayah juga hero, and i called him "Jendral kantjil", beliau seolah-olah ga pernah kasih perhatian langsung ke anak-anaknya, tapi aku tau dan aku bisa merasakan betapa sayangnya ayah ke mama dan anak-anaknya, yaaa... ayah paling gengsi untuk menitikan air mata dan terlihat khawatir didepanku, karena dia gamau di bilang lemah. Dibalik itu semua ayah sering nangis mengkhawatirkanku ketika aku harus nyetir pulang malam sendirian, ayah nangis ketika tau ada orang yang menyakitiku, ayah nangis ketika nona kecilnya berhenti senyum dan masang rawut muka penuh masalah. ketekunan, dan ketegarannya yang membuat aku belajar banyak hal. Klo ditanya seberapa besar pengaruh mereka bagi kehidupanku? Dengan lantang aku akan menjawab, sangat besar! Mulai dari cara berfikir dan cara bersikapku, mengajarkan emotional intelligence yang sangat penting dalam membentuk karakter. Selalu mengingatkanku jangan pernah menunda-nunda pekerjaan, when you can do it now, do it now dan jangan pernah bergantung pada orang lain, if you can do it by self, yaaa by self. Dan yang ada dalam diriku sekarang, semuanya pengaruh dari kedua hero-ku. They walks the talks and practice what they preaches.

For my hobby

Klo kalian tanya siapa hero-ku dalam menulis, aku akan jawab Joanne Kathleen Rowling, penulis serial fenomenal itu udah berhasil menjadi salah satu inspirasiku dalam menulis, imajinasinya itu edan luar biasa dan cara dia menuangkan imajinasinya yang gila ke dalam tulisan itu membuat aku terkagum-kagum sekaligus terpacu untuk membuat tulisan yang sama hebatnya, dari dia lah aku suka belajar bagaimana menulis deskripsi yang detail dan membuat pembaca ikut merasakan dan masuk kedalam tulisanku.

For my Passion

Dunia jurnalistik itu begitu luas dan aku sama sekali ga menyesal terjun di dalam dunia ini, dunia ini mengajarkan ku banyak hal tentang ribuan orang yang punya pemikiran yang berbeda dan disinilah posisiku untuk bisa senetral mungkin terhadap apapun dan siapapun. Kenal orang diberbagai kalangan membuatku belajar banyak posisi posisi baru yang belum pernah aku temui sebelumnya. Sosok inspiratifku diruang lingkup ini adalah Najwa Sihab, Titis Widjatmoko, Kania Sutisna Winata, Senandung nacita, mereka tak hanya pintar, namun juga sangat real, mereka bisa membuat orang yang diajak bicara itu merasa nyaman, jadi saat mencari informasipun tidak emosional. Dan membuatku tidak malu bertanya, karena selama ini banyak yang gengsi dan takut untuk dibilang bodoh. Mereka membuktikan bila di tv memang real dan ga selalu glamours but they're still grounded. Menurutku mereka punya value untuk aku anggap sebagai hero-ku dibidang ini.

Seorang pahlawan ga harus selalu sosok yang mampu melakukan segalanya dan menjadi yang terbaik disegala bidang. Kita jangan hanya meneropong kelebihannya aja, cari tau sejarah dibalik nama itu. Sebenernya Pahlawan sesuai porsinya aja, selama mereka dapat memberi pelajaran baru buatku ya mereka adalah pahlawan. Aku ga punya figure khusus klo harus ditanya dan jawab satu sosok aja.

And you! Taught me to be original, he taught me to forget the pain, mock the pain and reduce it.

Pada akhirnya aku berpikir bahwa kepahlawanan berbicara soal "tindakan tanpa pamrih just to serve at our cost untuk orang lain, tidak perlu ditengah perang, just do the right thing for others when the opportunity reveal it self. Bahwa kamu, aku dan mereka, kita semua bisa saling menginspirasi kok.

Sabtu, 28 Juni 2014

Hijab? Harusnya sih mencerminkan Perilaku

  

      Jika kita berhijab, sifat dan perilaku akan mengikuti? Itu pernyataan darimana? Aku ga setuju dengan orang yang bilang seperti itu, kenapa? Yaa karena, banyak wanita yang berhijab tapi sifat dan kelakuan sangat jauh dari kata hijab. Hijab= berjilbab = menutupi / menjaga. Gaya berhijab saat ini pun tidak monoton hanya membentuk potongan segitiga, warna-warna standar dan aksesoris minim. Tapi sekarang, revolusi hijab sudah sangat berkembang pesat, mulai dari bentuk, pelengkap hijab, aksesoris pendukungnya, dan tentu saja dengan itu semua, membuat hijabers makin clic and chic dalam penampilan. Tidak lagi bosan dengan penampilan itu – itu saja.

      Nah pertanyaannya saat ini, apakah para hijabers tersebut memang benar-benar memahami makna dari penutup aurat, atau hanya sekedar mengikuti tren baru yang diciptkan oleh desainer muda “dian pelangi”sang pelopor hijabers community bahwa sekarang berhijab itu tidaklah kolot dan membosankan, tetapi fashionable dan chick.
     Melirik sebentar kepada arti kata hijab ~ Al-Hijab berasal dari kata hajaban yang artinya menutupi, dengan kata lain al-Hijab adalah benda yang menutupi sesuatu, menurut al-Jarjani dalam kitabnya at-Ta’rifat mendefinisikan al-Hijab adalah setiap sesuatu yang terhalang dari pencarian kita, dalam arti bahasa berarti man’u yaitu mencegah, contohnya: Mencegah diri kita dari penglihatan orang lain.

     Jadi jelas disini dikatakan berhijab itu gunanya untuk menutupi aurat para wanita, agar dia terlindungi dari marabahaya. Tentunya juga si hijaber tersebut menutupi aurat dengan mamakai pakaian yang mentupi tubuh sesuai dengan syariat brhijab yang baik.

    Kini sering ditemukan kepala ditutupi kerudung, tapi kelakuan jauh lebih rendah dari wanita dengan rambut terurai. Alangkah baiknya jika kepala udah ditutupi, akidah dan ahlakpun dijaga. Di era yang semakin maju, kini hijab pun masuk dalam kategori fashion, (banyak) wanita berlomba-lomba menutupi kepalanya karena mengikuti fashion yang ada. Aku salut sama mereka yang tetap konsisten dengan pilihannya untuk menggunakan kerudung sebagai penutup mahkota juga sebagai landasan pertimbangan dia dalam melakukan hal apapun. Klo aku pribadi, aku akan mengenakan kerudung, ketika aku udah menutupi ATTITUDE dengan kesopanan dan melakukan segala halnya sesuai pertimbangan-pertimbangan yang matang, dan ketika aku udah menutupi HATI aku, menutupi hati yang dimaksud adalah aku ingin mengkrudungi hati aku dari sifat iri, dengki, riya dan yang lainnya, karena menurut aku percuma kepala ditutupi tapi klo hati masih suka kesel ketika liat orang lain bahagia, aku mau menjaga mulut, karena ketika aku sudah siap menutupi kepalaku dengan berhijab, berarti aku udah harus menjaga perkataanku, percuma dong yah klo kepala ditutupi tapi klo mulut masih suka ngomongin orang, masih suka fitnah, masih suka bergosip, masih suka nyinyir, sayaaang... sama kerudung yang dipake. Jilbab/ Kerudung itu bukan mainan, klo merasa diri belom istiqomah, yaa jangan coba-coba ikutan berkerudung hanya demi ikutan trend yang ada sekarang.

   Disini aku bukan mengunderestimate wanita berhijab, jelasss tidak. toh banyak juga mereka yang berhijab karena keinginan dari hati dan perilaku sudah selayaknya wanita berhijab, itu jelas lebih baikkk. pada dasarnya wanita diciptakan dengan segala kelebihannya dan membuat ia terlihat cantik, tanpa hijabpun jika hatinya bersih, aura kecantikan pasti muncul dari dalam dirinya, tapi jika ia berhijab dan hatinya masih saja kotor, mau sebagus apapun gaya dia memakai hijab tetap saja aura yang terpancar tidak enak dilihat. 

Sabtu, 11 Mei 2013

Semua Ada Alasannya

   Saat masih umur 3tahun, kita udah suka menghayal seolah-olah lagi belajar disekolah, pake baju sekolah yang kebesaran, bawa-bawa tas kesana kemari, dan bertingkah layaknya seorang siswa lagi belajar dengan guru dikelas, seraya ngomong dan jawab sendiri. Konyol sih... Tapi saat itulah orangtua menilai bahwa kita mempunyai semangat belajar yang tinggi. Masuk umur 4tahun, mama ngedaftarin aku di TK dengan grade "Nol kecil", dulu masih ada sistem cawu atau caturwulan dan akhirnya umur 5tahun lanjut ke grade "Nol Besar". Jamannya kita masuk SD, kita cuma bisa nerima sekolah mana pun itu hasil pilihan orangtua, ketika SMP pun begitu, kita hanya dikasih sedikit "suara" untuk memilih mana sekolah yang akan kita tuju, dan seterusnya. Selama ini kita hanya meng"iya"kan tanpa perlawanan. Perlawanan yang aku maksud itu, menolak sekolah pilihan orangtua. Tapi keadaan seperti itu tak lagi ditemui ketika kita ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dari SMA, kita bebas memilih kampus, bebas memilih jurusan apa yang sesuai dengan keinginan kita, bebas menentukan pilihan deh yaa.... Proses kuliah yang membutuhkan waktu yang cukup lama membuat kita semakin mengerti akan passion kita kedepan, kita mendapatkan materi-materi guna mempermatang pengetahuan yang ada, dan berharap lulus kuliah kelak kerja sesuai keinginan dan kemampuan kita. Yaaa... Itu hanya wacana kita untuk hidup kedepannya. Karena jika aku udah mengetahui passionnya, hidup akan jadi terarah, kita jadi bisa fokus ke bidang yang kita suka dari awal dan yakin, bahwa mimpi itu bisa cepat kita raih Dan balik lagi pada intinya, kadangan tujuan, harapan, wacana, keinginan tidak sesuai dengan kenyataan. Aku kuliah di fakultas komunikasi jurusan jurnalistik, kenapa aku memilih itu? Karena awalnya, aku ingin jadi reporter news , atau menghayal untuk kerja di sebuah Majalah remaja yang berdiri sendiri karena kegigihan 4bersaudara. Mendapatkan banyak pelajaran berharga saat kuliah, pelajaran-pelajaran dimana aku bisa meyakinkan diri untuk tetep pada passion aku sebagai seorang jurnalis. Lulus kuliah kerja sebagai seorang kuli tinta disebuah media , jiwa jurnalis udah ada dalam diri aku sejak lama, biasanya selalu pengen tau tentang "how" and "why" dari suatu hal, be curious sih... karena aku selalu penasaran dan itu bikin aku tertarik buat mencari tahu tentang banyak hal, dengan begitu pikiran aku jadi selalu aktif, pengetahuan juga tambah luas dan bisa memunculkan perspektif baru dalam melihat sesuatu. Sampai akhirnya aku mendapat pertentangan dari Ayah untuk segera mengakhirinya, pemikiran ayah emang realistis sih, dan maksud dari larangannya emang baik, ayah ga mau aku cape liputan sana sini, suka pulang malam, bahkan kadang sampai larut, kenapa ayah kaya gitu? Karena aku anak perempuan tertua dirumah dan jadi anak tertua juga, yaaa sepeninggal abang, aku emang jadi anak paling tua nya ayah, ayah mau aku kerja diruang lingkup yang jelas,  office hour, dan duduk manis dibalik meja. Klo ditanya baik atau ngganya, jelas baik banget keinginan ayah, tapi ga baik buat aku (sekarang) ini, mengecilkan mimpi demi Ayah. Demi orang hebat yang selama ini aku banggain karena perjalanan karirnya sampe sekarang ini. Ayah keras dalam mendidik anak, tapi aku yakin, ayah punya tujuan yang jelas untuk itu semua. Setengah hati aku beranikan diri untuk apply ke 2 Bank yang termasuk dalam gol.BUMN . Hanya dengan modal nekat aku coba tenang saat walk in interview and I show the best I ever had for interviewer, dan lanjut psikotes serta tes kesehatan yang ternyata aku bisa dan lulus dalam tahap-tahap itu. Hingga menuju keputusan terakhir, aku harus interview user di sebuah pusat bank dibilangan kota, wawancara dengan kanwil pusat sih sempet bikin dagdigdugserr. Yaaa... really I'm so nervous. Karena menurut capeg (calon pegawai) yang sudah ngejalanin interview user, Pak Kanwil itu agak horor karena ketus dalam omongannya dan susah senyum. Ketika tiba saatnya namaku dipanggil, aku coba se rileks mungkin, dan dalam hati aku monolog sama tuhan "tolong jaga perkataanku, dan mudahkan aku menaklukkan orang itu, semua demi orangtuaku"   aku masuk dan langsung ijin duduk, seperti biasa suasana agak kaku dan berakhir dengan obrolan serius tentang dunia fotografi dan konser, karena pak kanwil tertarik dengan pembahasan itu dan untungnya aku bisa mengimbanginya. Masuk tahap pemberkasan, rasanya 1/4 bagian dari diri aku ilang.. Karena ijazah S1 aku resmi ditahan selama 2tahun oleh pihak bank, padahal saat itu aku masih setengah hati untuk bergelut diprofesi itu. Kontrak 2tahun itu bukan "waktu" yang singkat buat aku jalani. 

  Aku pernah ngerasa down, sedih, kecewa saat cobaan datang, pikirin tentang berbagai hal yang patut kita syukuri dalam hidup. Always look at your problems from the bright side. Dari pada fokus mikirin apa yang ga bisa kita dapetin, mending syukuri what we already have. Dengan begini kita jadi lebih bisa menghargai hidup dan lebih deket dengan tuhan. Sekarang aku jalanin apa yang udah aku perjuangkan, berat memang, tapi insyaAllah aku akan merasakan nikmatnya suatu hari nanti, karena tiap kejadian pasti ada hikmahnya.

Jadi buat kalian yang masih dibebaskan dalam hal memilih pekerjaan, mulai dari sekarang kejar passion kalian, kejar apapun yang memang pantas kalian gapai.

Jumat, 10 Mei 2013

Ternyata itu Aku.. Menurut "Dia"

"MAYA"

" Maya... Membahasakan dirimu serupa menentukan darimana setetes rintik hujan berasal. Ada gelas-gelas mimpi yang hampir penuh dimatamu. Menggaris langit dalam seperempat bianglala. Menggambarkan tentang bagaimana sukma bisa begitu terkagum pada raut senyummu. Yang selalu saja berhasil kau ukir seindah merahnya senja.

Maya, Membahasakan dirimu serupa pucuk-pucuk edelweis di Lembah Mandalawangi yang muncul tak beraturan. Betapa senyap angin menepis segala keraguan. Berbicara tentang angin, aku bahkan tak tahu dibagian mana mereka akan muncul. Lalu sampailah pada tepian pagi ini. Ketika angin memeluk cemas raut manja wajahmu. Ingin kukemas itu semua dibalik dedaunan. Menyembunyikannya hingga gugur sendiri nanti. Tapi ranting terlalu lantang bercerita. Tentang senja yang mencemburui senyuman mu... 

Maya.. Masihkah perlu kucoba membahasakan dirimu?? "

Itu sudut pandang dari salah satu orang yang memang dia mengetahui aku seperti apa. Ga ada sedikitpun yang aku rubah.. Itu pure "tulisannya". Aku ga berhak memenggal kata-kata yang menurutku "ga indah", akupun ga berhak untuk menghentikannya  berfantasi dengan kata mengenaiku. Dia itu temen, yaa.. Temen yang kehidupannya suka ga jelas, jalan ga jelas, dan menertawakan beberapa "hal" yang ga jelas pula. Hahahah aneh? Oh, tidak.. Dia ga aneh, tapi unik.. Orang yang ga kenal mungkin akan beranggapan bahwa orang ini aneh, tapi menurutku dia ga aneh, karena dia ga pernah sedikitpun berusaha "mengcover" diri untuk di lihat "baik" dimataku.. Yaa sesederhana itu kah... Hingga aku pun tak perlu repot untuk memperlihatkan beberapa hal mengenai passionku di"bagian" apa, attitudeku seperti apa, dan semua tentang kesederhanaan hidup,  hingga aku pun ga risih untuk menceritakannya.

I'm not trying to do something different, I'm trying to do the same thing but in ɑ different way.- Vivienne westwood

Jumat, 05 April 2013

Lebih Baik Berkaca Diri

      Kebanyakan dari kita suka lupa hal-hal kecil apa aja sih yang udah bikin kita nyesel akan "sesuatu" yang ga bisa kita capai karena kesalahan diri. Kita suka meremehkan hal-hal kecil, sampai akhirnya kita sadar bahwa hal kecil itulah yang menjadi bumerang kita. Seperti contoh, ketika kita tidak bisa memenangkan perlombaan nulis cerpen, karena kita kurang menguasai perbendaharaan kata, dan mungkin pada kenyataannya kita memang harus banyak belajar, belajar, dan belajar lagi. Sama halnya ketika kita berada dalam sebuah organisasi, jangan marah, kesel, lalu keluar dari organisasi tersebut klo ide kita ga dipakai, bukan berarti ide kita masuk dalam kategori sebagai pokok pikiran yang jelek dan ga berbobot, coba di pikirin baik-baik, mungkin aja ide yang dibutuhkan dalam memecahkan suatu masalah dalam organisasi tersebut bukan seperti apa yang ada di otak kita, banyak keputusan yang harus diputuskan secara mufakat, berpegang teguh sama pilihan dan apa yang kita yakini itu bagus banget, tapi jangan lupa untuk tetap berpikiran terbuka, we are living in a big world, with so many personalities and opportunities. Nggak ada gunanya klo kita selalu berpikir sebagai orang "yang paling bener". Noted!! Dan jika kita tidak lolos dalam mengikuti kompetisi ajang-ajang bergengsi, padahal kita merasa jauh lebih oke dari kontestan yang lain, mungkin kita harus lebih banyak mengeksplore diri lagi, dan percayalah, seorang juri bukan hanya menilai kita dari fisik, otakpun ikut berkompetisi dengan pengetahuan-pengetahuan yang kita punya. Sebenarnya, Kita ga perlu dengan apapun yang instan, karena yang kita butuhkan itu proses, proses dimana kita belajar secara bertahap untuk dapetin dan mengerti apa yang sebenarnya kita butuhkan dan tau apa yang sebenarnya akan kita kejar.

     Ketika apa yang kita mau belum bisa jadi kenyataan atau banyak hal yang belum kita capai karena beberapa kendala tertentu. Please, don't give up! Yaaa karena it's time to think more deeply about what we've done, untuk sadar, hal apasih yang salah dalam diri kita? Hal apasih yang kurang dalam diri kita? Sehingga kita ga bisa mencapai "sesuatu" tersebut. Kadang kita hanya bisa melihat dan mengomentari semua kekurangan orang-orang disekitar kita, dan lebih fatalnya lagi, kita ga pernah sadar sama kekurangan yang ada dalam diri kita sendiri. Lebih tepatnya gini kali yah. "Manusia itu paling hebat menjadi hakim untuk orang lain dan paling jago jadi pengacara bagi dirinya sendiri" Padahal point terpentingnya adalah ketika seseorang sadar akan kesalahan yang ia perbuat, sadar akan kekurangan yang ia miliki, justru itu akan membuat mereka berfikir bahwa, "we must to be ɑ better person with all the things we ever had " Intropeksi diri itu penting, tapi lebih penting lagi, kita harus sadar dulu apa kelemahan dan kelebihan kita. Dan jangan memikirkan terlalu dalam mengenai kelemahan yang ada didalam diri kita, tapi berfikir bagaimana cara kita untuk dapat merubahnya. Bermimpi untuk menjadi sempurna boleh aja kok, tapi kita juga harus sadar dan tau bagaimana cara merealisasikannya.

Everything in life is accumulated your actions define the results.  Yep. Klo udah tau That's your beginning to learn how to struggle guys!

Rabu, 03 April 2013

Julio Cesar Still In My Mind

     Entah kenapa, setiap liat aksinya Handanovic disetiap pertandingan, ngeliat gaya dia menyelamatkan bola, ngeliat cara dia ngebawa diri setenang mungkin saat banyak orang menekannya, itu semua bikin kita keingetan sama Julio Cesar.. yaaa.. Mantan kiper Internazionale saat ini sudah mengembangkan karirnya di QPR, Julio Cesar Soares de Espindola atau yang akrab kita kenal dengan nama JuliOne ini lahir pada tanggal 3 September 1979 di Duque de Caxias, Brasil. Dia merupakan pemain sepakbola berkebangsaan Brasil yang bermain di posisi kiper.
Cesar memulai karirnya di tim lokal, Flamengo, dan bertahan di klub itu selama 6 musim. Pada bulan Januari 2005, dia dibeli oleh Inter Milan dan langsung dipinjamkan ke Chievo Verona untuk sisa musim 2004-2005, karena kuota pemain non Eropa Inter waktu itu sudah penuh. Sayangnya di Chievo, Julio Cesar sama sekali tidak diturunkan.

Pada Agustus 2005, dia kembali ke Inter dan menandatangi kontrak selama 3 tahun. Penampilannya yang menawan saat menggantikan Francesco Toldo membuatnya terpilih sebagai kiper utama. Penampilan yang konsisten membuatnya dianggap sebagai kiper terbaik di dunia. Perpisahan Julio dengan semua pemain dan presiden Intermilan, menjadi moment yang susah untuk dilupakan, bahkan tak sedikit pun aku melupakan video perpisahan itu. aaaaaah nangis (lagi),, jadi inget ini Surat terbukanya JuliOne:

"Terima kasih atas apa yang telah kita lalui dalam enam tahun ini, aku telah mempersiapkan sebuah surat untuk kalian, saya akan mencoba untuk tidak menangis...

Tujuh tahun yang lalu saya tiba di Milan, seorang laki-laki sederhana yang tidak dikenal bermain untuk sepak bola Eropa, namun sekarang ia telah mencapai tujuannya: 'Menjadi seorang kiper dihormati dan sukses'.

Dengan antusiasme seperti ini saya disambut dan petualangan saya bermulai.
Pertama kali aku mengenakan Jersey Inter aku menyadari berapa banyak penggemar mendukung saya.
Saya telah bekerja keras untuk menjadi pilihan Utama, akhirnya kepercayaan itu datang dari pelatih Mancini.

Sejak itu mimpi saya mulai menjadi kenyataan, Menjadi Scudetto. Bahkan beberapa tahun kemudian kami berhasil meraih sesuatu yang hebat.

Hari demi hari kami mulai membangun sebuah cerita yang akan selalu tetap ada dalam ingatanku.

Bersama dengan rekan-rekan saya, kami berhasil melakukan sesuatu yang hebat untuk semua orang: TREBLE WINNER, setelah penantian panjang selama 45 tahun. Akhirnya laki-laki sederhana itu berhasil mencapai Impiannya, terima kasih kepada keluarga besar yang disebut Inter.

Berkat Presiden, timnya dan untuk Anda, cinta anda dan semua yang anda berikan akan selalu berada di hatiku."

SAYA TIDAK MEMILIKI KATA-KATA LAIN, HANYA AIR MATA INI,

"Disini Mimpi itu berawal dan berakhir"


     Rumor yang beredar di media, Milan mengincar JuliOne untuk gabung di clubnya, bener-bener nyesek bacanya dan berharap itu ga terjadi, kalaupun terjadi, bukan cuma aku, tapi banyak interista mungkin aja kecewa. I know you've ɑ smart thinker and think twice before you sign contract yaa Julio. Hingga sekarang aku masih hormatin semua kontribusinya untuk inter.. Aaaah he's one of treble winner heroes, thankyou for a wonderful season that you give for us (inter). berharap Handanovic  bisa lebih hebat dari JC.