Teman? Sahabat? Untuk hal ini dan dalam situasi ini, aku tidak tau “siapa mereka sebenarnya?” Cuma hati kecil kita masing-masing dan Tuhan lah yang tau. Kadang aku kangen sama mereka, bukan kadang tapi sering dan sangaaaaaat kangen dimana kita bisa jalan bareng, ketawa bareng, saling bully membully, saling sharing, saling bantu, saling jail dan saling support. Semua keadaan itu tak lagi kutemui (sekarang), mereka punya dunia nya sendiri, kesibukan sendiri dan bahagia sendiri. Aku merasa di tinggalkan? Tentu tidak, mungkin ini adalah awal dimana aku bisa menentukan mana teman, mana sahabat, atau malah musuh abadi. Aku sayang mereka, aku rindu mereka. Tiga orang bersatu dalam wadah, dengan umur yang jauh berbeda beda, pemikiran yang beda, cara bicara yang beda, cara bergaul yang beda, dan sifat jauh berbeda pula. Yaaaa.... pada kenyataannya kita memang berbeda, tapi hobby lah yang menyatukan perbedaan itu semua. Awal dimana aku mulai kenal mereka, aku merasa “oke mai, lo punya Abang dan kakak baru sekarang, silahkan lo belajar banyak hal positif dari mereka” aku memang kenal mereka, tapi aku tak mengenal “siapa” mereka sebenarnya. Pengendalian emosi kita memang beda, kadang semua bisasama, ketika kita tiba-tiba satu pemikiran tentang apa yang ada. Kadang kita beda dan saling keluarin pendapat masing-masing. Masuk dimana waktunya salah satu dari kita ada yang sedikit bete karena suatu hal, aku berusaha menyatukan lagi, dengan segala cara yang aku bisa agar kita masih bisa jalan bertiga, masih bisa saling berbagi. Walau ada aja hambatannya, tapi aku gabisa liat salah satu dari kita ada yang kesel-kesel’an.
Teman : ada batasan
Sahabat: udah saling terbuka tanpa rasa takut saling menyakiti.
Berjalannya waktu, rasa saling menghargai itu pudar, pudar layaknya kita tak pernah saling kenal. Bahkan aku tak mengenal mereka yang sekarang, mereka berubah drastis,tanpa ngasih tau penyebab berubahnya karena apa. Jauh sebelum itu mereka baik, tapi baiknya beralasan,. Banyak omongan-omongan negatif tentangnya, aku Cuma bisa senyum dan bela “mereka orang baik kok, kalian aja yang gatau” padahal dalam hati aku nangis, nangis karena aku punya temen dan ternyata banyak yang ga suka dengannya.
Jendral kantjil pernah bilang: “ketika kamu membeberkan kejelekan temanmu atau bahkan kamu membeberkan sesuatu tentang temanmu yang kamu tidak tau kejadian sebenarnyadan seolah-olah kamu mengetahuinya, maka itu sejelek-jeleknya dirimu sendiri”
Aku memegang kalimat itu, kalimat yang udah ayah ingatkan ke aku beberapa tahun lalu, dan aku sangaaaaat ingin untuk selalu mengingatnya sampai kapanpun itu. Laporan laporan jelek tentang ku pun berdatangan dari berbagai orang, dan aku sangat menghargai itu. Ketika ku tanya “Kalian tau darimana?” mayoritas menjawab “tau dari temenmu sendiri mai” . setiap orang yang abis di komporin dia, selalu ngadu ke aku, jadi lucu sebenernya, mau ketawa, sedih atau malah empati sama dia. Kasian . karena tanpa aku mencari tau, orang-orang itu yang mencariku dan ngasih tau semua yang udah diceritakan “temenku” . bersyukur ternyata dibalik itu semua, masih banyak orang yang dengan sendirinya care denganku tanpa aku harus memintanya. Saran-saran berseliweran tentangnya. “mereka bukan temen yang baik mai, apa kamu masih mau anggep mereka temen? , sindir menyindir di social media bukan jalan yang bener klo mau negur temen. ” dengan lancangnya aku bilang “aku masih hargai mereka, aku udah terlanjur sayang sama mereka, mau dalam keadaan apapun,mau mereka sejahat apapun, mereka tetep temenku”
“kehilangan teman? I don’t care. I have a long way to go in life and i’ll meet a lot of new people anyway, because if YOU are true friend, don’t leave”